Karena Tuhan Tak Sedang Bermain Dadu
Aku menatap kosong ke luar jendela rumah sakit. Lampu-lampu kota berkedip di kejauhan, seperti bintang yang terlalu dekat tapi tetap tak bisa kugapai. Di belakangku, mesin-mesin medis berdengung pelan, seakan mengingatkan bahwa waktu terus berjalan. Di atas ranjang itu, seseorang terbaring lemah. Namanya Aksa. Lelaki yang pernah bersumpah akan selalu bersamaku. Lelaki yang pernah mengajarkan bahwa cinta bukan sekadar kata-kata, tapi juga keberanian untuk bertahan. Tapi malam ini, tak ada lagi janji. Tak ada lagi tawa. Hanya detak monitor jantung yang semakin pelan, seolah waktu sedang menghitung mundur kepergiannya. Aku menggenggam tangannya yang dingin. “Aksa, kamu nggak boleh pergi.” Dia tersenyum kecil, senyum yang selama ini selalu membuatku merasa tenang. “Tuhan nggak sedang bermain dadu, Naya,” bisiknya. “Apa yang terjadi… selalu punya alasan.” Air mataku jatuh. Aku ingin marah. Aku ingin berteriak. Tapi aku tahu, ini bukan soal keberuntungan atau nasib buruk. Ini bukan soal...